Sabtu, 14 April 2012

Subsistem Hidrologi DAS Kelara, Kab. Jeneponto

Aliran sungai lebih ditentukan oleh tingkat curah hujan daripada oleh proses hidrologi lainnya yang dipengaruhi oleh DAS. Aspek utama yang termasuk dalam aliran sungai adalah total hasil air tahunan, keteraturan aliran, frekuensi terjadinya banjir pada lahan basah, dataran aluvial dan ketersediaan air pada musim kemarau (Noordwijk dkk, 2004). Untuk menjaga aspek ini dapat dilakukan dengan memelihara tutupan lahan oleh pohon dengan segala bentuknya berupa hutan alami atau pohon yang dibudidayakan dan lain sebagainya.
Pengaruh tutupan pohon terhadap aliran air dalam bentuk (Noordwijk dkk, 2004):
1. Intersepsi air hujan. Selama hujan, tajuk pohon dapat mengintersepsi dan menyimpan sejumlah air hujan dalam bentuk lapisan tipis air (waterfilm) pada permukaan daun dan batang yang selanjutnya akan mengalami evaporasi sebelum jatuh ke tanah.
2. Daya pukul air hujan. Vegetasi dan lapisan seresah melindungi permukaan tanah dari pukulan langsung tetesan air hujan yang dapat menghancurkan agregat tanah, sehingga terjadi pemadatan tanah. Hancuran partikel tanah akan menyebabkan penyumbatan pori tanah makro sehingga menghambat infiltrasi air tanah, akibatnya limpasan permukaan akan meningkat.
3. Infiltrasi air. Proses infiltrasi tergantung pada struktur tanah pada lapisan permukaan dan berbagai lapisan dalam profil tanah. Struktur tanah juga dipengaruhi oleh aktivitas biota yang sumber energinya tergantung kepada bahan organik (seresah di permukaan, eksudasi organik oleh akar,dan akar-akar yang mati).
4. Serapan air. Faktor–faktor yang mempengaruhi jumlah serapan air oleh pohon adalah fenologi pohon, distribusi akar dan respon fisiologi pohon terhadap cekaman parsial air tersedia.
5. Drainase lansekap. Besarnya drainase suatu lansekap (bentang lahan) dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kekasaran permukaan tanah, relief permukaan tanah yang memungkinkan air tinggal di permukaan tanah lebih lama sehingga mendorong terjadinya infiltrasi, tipe saluran yang terbentuk akibat aliran permukaan yang dapat memicu terjadinya aliran cepat air tanah (quick flow).
Karakteristik fisik DAS merupakan variabel dasar yang menentukan proses hidrologi pada DAS seperti terrain dan geomorfologi, pola pengaliran dan penyimpanan air sementara pada DAS, dapat membantu mengidentifikasi daerah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap terjadinya persoalan DAS, serta perancangan teknik-teknik pengendalian yang sesuai dengan kondisi setempat.
Pola pengaliran dan penyimpanan air dalam DAS sangat dipengaruhi oleh karakteristik tanah, bahan induk (geologi), morfometri DAS dan penggunaan lahan. Karakteristik ini menentukan banyaknya air hujan yang dialirkan atau tertahan, kecepatan aliran, dan waktu tempuh air dari tempat terjauh sampai dengan outlet (waktu konsentrasi) yang berpengaruh pada kejadian banjir, baik banjir yang berbentuk genangan (inundasi) maupun banjir bandang pada DAS tersebut.
Kecamatan Kelara, terdapat potensi sumber air yang sebenarnya tersedia cukup melimpah untuk memasok keperluan pengairan dan kebutuhan air minum. Di wilayah DAS ini termasuk ke dalam salah satu cekungan air tanah yaitu cekungan air tanah Bantaeng yang meliputi hampir semua wilayah DAS Kelara. Beberapa kecamatan lain seperti Kecamatan Binamu, Bangkala dan Bangkala Barat terdapat alur sungai yang cukup besar dengan debit air memadai. Keberadaan sumberdaya air ini baru mulai dimanfaatkan pada periode tahun 1990-an khususnya untuk pasokan air minum di ibukota kabupaten. Akan tetapi di beberapa kecamatan lain yang letaknya diatas 100 m dari permukaan laut, pasokan air menjadi semakin sulit dan langka, sebagai akibat belum terbangunnya jaringan sekunder dan tersier keseluruh wilayah. Keberadaan tiga buah bendungan di sekitar wilayah Kecamatan Kelara sampai saat ini belum berarti banyak baik untuk keperluan pengairan maupun untuk memutar turbin listrik.
Ada beberapa kriteria dari fungsi DAS yang berhubungan dengan karakteristik lokasi dan aliran sungai, relevansinya dengan multi pihak yang tinggal di daerah hilir serta beberapa indikatornya. Karakteristik alami diantaranya curah hujan, jenis tanah, akar vegetasi alami sebagai jangkar tanah. Kriteria yang dijadikan patokan ditinjau dari segi transmisi air, pelepasan air secara bertahap, memelihara kualitas air, mengurangi longsor.
Sedangkan relevansi dengan pengguna dan pihak terkait lainnya Semua pengguna air, terutama masyarakat yang berada di daerah hilir adalah masyarakat yang tidak memiliki sistem penyimpanan air untuk ketersediaan air pada musim kemarau (water reservoir : misalnya danau, waduk, embung atau tandon air), masyarakat yang tidak memiliki sistem purifikasi, petani dan nelayan, masyarakat yang tinggal di kaki bukit yang berpotensi tinggi terjadi (tertimpa) aliran lumpur, banjir dan tanah longsor PLTA, sehubungan dengan umur paruh waduk. Ini dilihat dari indikator hasil air per curah hujan tahunan, Ketersediaan air selama musim kemarau, ketersediaan air bersih sepanjang waktu keberadaan jenis ikan tertentu, intensitas kejadian longsor biodiversitas dan bioindikator (adanya bentos, nimfa bangsa plekoptera dan lain-lain).
Salah satu faktor terpenting penyebab terganggunya fungsi hidrologi di kawasan DAS Kelara yang berujung terjadinya bencana alam adalah aktifitas manusia yang terus maningkat. Penebangan hutan ilegal, perambahan hutan untuk dijadikan kawasan perkebunan, penggunaan lahan untuk berbagai kepentingan yang tidak menerapkan kaidah konservasi tanah dan air atau yang melebihi daya dukungnya serta lemahnya penegakan hukum terhadap para pelanggar peraturan perundangan. Di samping itu, banyaknya perambahan kawasan hutan dan konservasi daerah resapan air di daerah hulu DAS menjadi perkebunan, yang menyebabkan kapasitas infiltrasi air hujan sangat menurun dan aliran air permukaan meningkat dengan drastis.
Langkah-langkah yang telah dilakukan pemerintah untuk melestarikan kembali hutan yang rusak. Dengan mengadakan penghijauan, dan penanaman pohon serta mencegah timbulnya pembalakan liar. Departemen kehutanan telah melakukan tata guna hutan, dimana kawasan hutan ditata dalam tiga fungsi utama yaitu hutan produksi, hutan lindung dan hutan konservasi. Pembagiannya ditentukan berdasarkan faktor curah hujan tahunan, jenis tanah dan kemiringan lereng. Sementara Kondisi alami seperti keadaan geologi, tanah, topografi dan curah hujan yang tinggi dibanyak DAS sangat rawan untuk terjadi tanah longsor dan banjir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar