Rabu, 09 Desember 2009

Survey Potensi Air Tawar pada Aquifer Pantai Tammangalle, Kab. Balanipa Polman

ALFIAN NAWIR
FISIKA BUMI FMIPA UNM
Air sebagai salah satu faktor yang terpenting bagi kehidupan manusia. Tak dapat disangkal bahwa demikian halnya, manusia hidup di atas muka bumi ini mencukupi segala kebutuhan hidupnya yang hampir seluruhnya tersedia di dalam tanah yang mengandung air. Di lihat dari jumlahnya, air tanah hanya merupakan sebagian kecil dari seluruh air dibumi. Walaupun demikian, jumlah tersebut masih lebih banyak bila dibandingkan dengan air tawar permukaan yang berada di sungai atau danau.
Sekitar 70% permukaan bumi tertutup oleh perairan, Dimana perairan di permukaan bumi terdiri dari berbagai macam air, secara garis besar berupa air laut dan air tawar. Sekitar 98% air dipermukaan bumi merupakan air laut, dan 2% diantaranya berupa air tawar. Dari semua air tawar 87% diantaranya membentuk es yang membeku di kutub.
Air tanah mempunyai peran yang penting, karena selain mudah diperoleh juga kualitasnya jauh lebih baik, akan tetapi ketersediaannya kadang menjadi sesuatu yang relatif sulit di peroleh terutama saat terjadi musim kemarau yang sangat panjang. Dengan semakin menyusutnya daerah resapan air hujan, mengakibatkan recharge dan volume air tanah bertambah kecil. Ketidakseimbangan antara recharge dan eksploitasi, menyebabkan terjadinya penurunan muka air tanah secara cepat dan mengeringnya sumur-sumur. Tambahan pula keberadaan air tanah pun sangat sulit diharapkan untuk daerah-daerah yang dekat dengan pantai. Kenyataan tersebut membutuhkan upaya alternatif untuk mendapatkan sumber air bersih, diantaranya berasal dari lapisan akuifer air tanah.
Aquifer pantai mempunyai potensi air tanah cukup baik. Endapan aluvial pantai di Indonesia cukup besar mengingat garis pantai Indonesia yang cukup panjang.
Dari segi kuantitas, air tanah di daerah aquifer pantai dapat menjadi sumber air tanah yang baik terutama pada daerah pematang pantai/gosong pantai atau pada lensa-lensa batupasir lepas. Namun demikian, dari segi kualitas air tanah pada aquifer aluvial pantai tergolong buruk, ditandai dengan bau, warna kuning, keruh, tingginya kandungan garam, dan kandungan besi (Fe dan Mn) yang untuk daerah pantai rawa (pantai pasang surut).
Salah satu daerah yang memiliki potensi air tawar terdapat di Kabupaten Polewali Mandar, yaitu di Desa Tammangalle Kecamatan Balanipa. Dimana ditandai dengan adanya sebuah sumur yang airnya tawar dan digunakan penduduk setempat sebagai sumber air minum.
Namun, dikhawatirkan sumur tersebut tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk sekitar karena pada musim kemarau penduduk desa tetanggapun memanfaatkan sebagai sumber air minum.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar potensi air tawar di aquifer Pantai Tammangalle Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar.

METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian ini adalah di Pantai Tamangalle, Kab. Polman. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan satu set resistivitimeter dengan konfigurasi Wenner-Schlumberger. Di setiap titik pengukuran didapatkan nilai resistivitas material bawah permukaan.
Hasil pengukuran resistivitimeter diolah dengan menggunakan persamaan
...(1)
Data hasil pengukuran di lokasi penelitian dengan aturan konfigurasi Wenner-Schlumberger, seperti terlihat pada lampiran A. Dimana akuisisi data dilakukan pada satu lokasi yang terdiri dari 3 lintasan dengan panjang lintasan masing-masing 105 meter. Data yang terukur di lapangan adalah besarnya beda potensial (V) antara M dan N, dan kuat arus (I) antara A dan B yang diinjeksikan ke dalam bumi. Pengukuran dari ke-tiga lintasan, menghasilkan masing-masing 100 data dari 100 datum point dan jarak setiap elektroda adalah 5 meter yang dikalikan dengan faktor n, yang mana n adalah 1 sampai 10.
Untuk mendapatkan hasil inversi 2D digunakan software Res2dinv.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil inversi 2D bawah permukaan dapat dilihat pada gambar 1, 2, dan 3.
Pada lintasan 1 yang berjarak 5 m dari air laut, materialnya tersusun atas pasir dan kerikil yang mengandung air asin - air dalam lapisan alluvial (air payau), lempung, pasir dan kerikil yang mengandung air tanah, konglomerat dan batu gamping. Di mana pada lintasan 1 ini lapisan aquifernya/potensi air tawarnya tersebar pada kedalaman (1,25 – 17,3) m dengan nilai resistivitas (13 – 55,4) Ωm dan terdapat banyak air payau pada kedalaman (1,25 – 13,4) m dengan nilai resistivitas 6,50 Ωm.
Pada lintasan 2 yang berjarak ±10 m dari lintasan 1, materialnya tersusun atas batu lumpur, air dalam lapisan alluvial, air tanah, pasir dan kerikil yang mengandung air tanah, dan batu pasir lempung. Lapisan aquifer/potensi air tawarnya diperoleh pada kedalaman (1,25 – 18,79) m dengan nilai resistivitas (32,7 – 46,6) Ωm.
Pada lintasan 3 yang berjarak ±15 m dari lintasan 3, materialnya tersusun atas batu lumpur, air dalam lapisan alluvial, air tanah, pasir dan kerikil yang mengandung air tanah, dan batu pasir lempung. Lapisan aquifer/potensi air tawarnya diperoleh pada kedalaman(1,25 – 21,5) m dengan nilai resistivitas (37,2 – 54,0) Ωm.
Dari hasil interpretasi di atas diperoleh pada lintasan 1 meskipun terdapat potensi air tawar tapi terdapat pula air payau, hal tersebut didukung dengan keadaan geologinya (material bawah permukaan) yang kebanyakan berupa pasir juga jarak dari air laut yang masih dekat yaitu ± 5m.
Berbeda pada lintasan 2 dan 3 yang sudah tidak terpengaruh oleh asin/laut, hal tersebut disebabkan karena pada lintasan 2 dan 3 materialnya berbeda dengan lintasan 1. Dari hasil interpretasi pada lintasan 2 dan 3 diketahui material bawah permukaan terdapat lempung yang diperkirakan bersifat aquiclude sehingga pengaruh intrusi air laut berkurang sama sekali. Juga jaraknya sudah agak jauh dari air laut ± 15m. Pada lintasan 2 dan 3 inilah diperoleh potensi air tawar yang cukup besar yang tersebar merata pada kedalaman (3,88 – 9,94) m. Hal tersebut sesuai dengan kondisi di lapangan di mana terdapat sumur yang airnya tawar dengan kedalaman sekitar 4 m.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengukuran geolistrik di lokasi penelitian dan interpretasi data dengan Res2dinv, maka dapat disimpulkan bahwa potensi air tawar di Pantai Tammangalle Kabupaten Polewali Mandar cukup besar yang terdapat pada kedalaman (3,88 – 9,94) m, serta berjarak ±15 meter dari batas air laut.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Geolistrik (Online), (http://www.bravo3x.com, diakses April 2009)

Bappeda Polewali Mandar. 2008. Polewali Mandar Dalam Angka. Polman.

Hendrayana, Heru. 2002. Intrusi Air Asin Ke Dalam Akuifer Di Daratan. UGM. Yogyakarta.

Muhammad Arsyad. 2002. Pengetahuan Tentang Bumi. State University Of Makassar Press, Makassar.

Muhammad Arsyad. 2005. Pengukuran Dalam Fisika Bumi. State University Of Makassar Press, Makassar.

Santoso, Agus. 2004. Penentuan Kedalaman Antara Metode Geolistrik (Schlumberger) Dengan Logging Dalam Interpretasi Keberadaan Air Bawah Tanah. UPN Veteran. Yogyakarta.

Seyhan, Ersin. Dasar-dasar Hidrology. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sitanala, Arsyad. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB. Bogor.

Suripin. 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Andi. Yogyakarta.

Syamsurijal Rasimeng, dkk. 2007. Penentuan Lithologi Batuan Bawah Permukaan Menggunakan Metode Resistivitas Sounding di Daerah Prospek Geothermal Gunung Rajabasa. Dalam John Hendri...[et al.]. Prosiding Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat (175-183). Bandar Lampung: Lembaga Penelitian Universitas Lampung.

Telford, W.M.,L.P. 1990. Applied Geophysics Second Edition. Cambridge University Press, USA.

Teti Zubaidah. 2008. Pemodelan Fisika Aplikasi Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger Untuk Investigasi Keberadaan Air Tanah. Universitas Mataram. Mataram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar