Kamis, 26 Februari 2015

KOMPREHENSIF

POLA PENYEBARAN PANAS BUMI (GEOTHERMAL) DENGAN MENGGUNAKAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)-GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER

Aryadi Nurfalaq
Fisika Bumi FMIPA UNM

Indonesia merupakan daerah yang berpotensi akan sumber daya alam, termasuk sumber daya panas bumi (geothermal). Diperkirakan indonesia mempunyai cadangan potensi sekitar 20.000 MW sumber panas bumi dan sampai saat ini baru sekitar 10% dari cadangan yang ada atau 2.000 MW yang sudah dieksplorasi.

Daerah yang berpotensi sebagai sumber panas bumi ditandai dengan adanya sumber air panas dan uap air. Air panas dan uap air panas (geothermal fluids) yang dihasilkan oleh suatu sumber geothermal dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif, baik secara langsung (direct use) maupun secara tidak langsung (nondirect use). Pemanfaatan langsung berupa pemandian air panas, sterilisasi bibit tanaman, pemanas ruangan, pasteurisasi serta pengeringan hasil pertanian/perkebunan. Sedangkan non-directuse berupa pemanfaatan untuk pembangkit listrik tenaga geothermal (PLTG). Ketersediaan fluida geothermal sangat bergantung pada daerah resapan (recharge area) maupun daerah tangkapan air hujan (catchment area), sehingga memperbesar aliran air di bawah permukaan. Aliran air yang bersentuhan dengan sumber geothermal di bawah permukaan akan mengalami pemanasan dan keluar ke permukaan dalam bentuk uap atau air panas.

Metode geofisika yang secara luas banyak dilakukan dalam eksplorasi adalah metode seismik, magnetik, gaya berat, listrik dan elektromagnetik. Metode geolistrik merupakan salah satu metode eksplorasi geofisika yang dapat diterapkan untuk mempelajari karakteristik suatu sistem geothermal. Penentuan lithologi lapisan batuan, posisi reservoar, pola aliran serta sebaran fluida geothermal di bawah permukaan bumi, merupakan syarat mutlak yang harus diketahui jika akan memanfaatkan energi geothermal tersebut. Oleh karena itu studi ini dilakukan dengan menerapkan metode geolistrik dengan konfigurasi Schlumberger, supaya cara dalam menentukan persebaran geothermal dapat diketahui.
Prinsip dasar metode ini adalah menginjeksikan arus listrik ke dalam bumi menggunakan dua buah elektroda arus, kemudian mengukur beda potensial melalui dua buah elektroda lainnya di permukaan bumi. Arus listrik yang di-injeksikan akan mengalir melalui lapisan batuan di bawah permukaan, dan menghasilkan data beda potensial yang harganya bergantung pada tahanan jenis (resistivity) dari batuan yang dilaluinya. Fenomana inilah yang dimanfaatkan untuk mengetahui dan menentukan jenis batuan termasuk fluida apa saja yang ada di bawah permukaan.

Pemanfaatan metode geolistrik tahanan jenis telah banyak digunakan untuk pengamatan lapisan geologi dangkal. Kemampuan metode geolistrik sangat ditunjang keadaan bawah permukaan yang tersusun oleh lapisan-lapisan dengan tahanan jenis berbeda. Adanya variasi tahanan jenis lapisan, dapat diamati dengan menginjeksikan arus listrik ke dalam bumi dan mencatat tahanan jenis pada titik-titik pengamatan di permukaan bumi. Dengan mengubah-ubah jarak elektroda sesuai dengan konfigurasi tertentu, maka dapat diinterpretasi perubahan tahanan jenis secara vertikal dan horizontal. Kemampuan metode geolistrik tahanan jenis dalam mendeteksi perlapisan bawah permukaan telah dibuktikan. Salah satu keberhasilannya adalah mendeteksi kedalaman lapisan konduktif menggunakan metode geolistrik yang dipadukan dengan metode elektromagnetik dan memetakan zona intrusi air laut serta penyelidikan daerah panas bumi dengan menggunakan geolistrik dengan konfigurasi Schlumberger di NAD. Beberapa hasil penelitian menggunakan metode geolistrik tersebut menjadi rujukan penting dalam melakukan studi tentang cara menentukan pola penyebaran geothermal.

Download Artikel lengkap disini...!!!

Dipresentasekan dalam Mata Kuliah Komprehensif di Ruang Seminar Jurusan Fisika FMIPA UNM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar